Ada
dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang : nikmat sehat dan
waktu luang. (HR.Bukhari)
Rumah Singgah
Pasien
Kamis pagi pkl 07.00
WIB
06 September
2018
Aku yang sedang
bermalas-malasan sambil bermain handphone ditempat tidur di ruangan petugas
tempatku bekerja sayup sayup mendengarkan pembicaran pasien diruangan sebelah
kamarku. Suara laki-laki sedang berbicara menggunakan telepon,
mungkin bang Pepi benakku menebak suaranya. Bang Pepi itu panggilan untuk bang
Irfan. Salah satu pendamping atau tepatnya suami dari Kak Nur. Salah satu
pasien penghuni ruah singgah pasien. Wajahnya mirip dengan pepi si komedian,
jadilah aku memanggilnya bang Pepi. Yah, benar tebakanku, itu suara bang
Pepi. Suaranya makin membesar. Sepertinya mendapat kabar buruk. Aku mencoba
medengarkan pembicaraannya dari balik dinding kamarku. "Ah, betul ko
aceh, jangan becanda kau" suara Bang Pepi terdengar terkejut.
Aku yang merasa ada yang
tidak beres langsung bangkit dari tempat tidurku. Ku ambil jilbab instan yang
sengaja kugantung dibalik pintu (aku selalu meletakkan satu jilbab instan
dibalik pintu agak dengan mudah bisa kupakai kalau mau keluar kamar). Secepat
kilat kupakai dan kubuka pintu kamarku dengan kasar. Beberapa detik kemudian
aku sudah berada dikamar sebelah tempat bang Pepi tadi berbicara. Tentu saja
aku tidak nyelonong sesuka hati, karena kamar itu memang selalu terbuka.
"Kenapa bang?" tanyaku cemas. "Istri Pak Aceh meninggal tadi
pagi, barusan aku ditelpon" jawabnya lemas.
"innalillahi wa
innacilaihi rojiun... bangang tolong beresin barang-barang kakak itu ya"
kataku sambil lalu. Bang Pepi dan beberapa suami pendamping para pasien saling
membantu dan segera membawa barang-barang milik almarhuman dan Pak Aceh ke
rumah sakit. Aku belum bisa pergi bersama mereka. Ada hal penting yang harus
kulakukan.
Beberapa menit
kemudian para pasien yang tidak ikut ke rumah sakit semua berkumpul diruang
tamu. Mereka tampak sedih. Baru beberapa hari yang lalu mereka ngobrol ringan
bersama. Sekarang salah satu dari mereka mendapat gilirannya. Meninggal dunia.
ku sadar betul
kondisi ini sangat sangat tidak menyedihkan. Tapi aku tak punya waktu untuk
terdiam atau menangis. Aku harus segera bertindak. Biasanya aku akan segera
menelepon pihak kantor jika ada pasien yang meninggal. Aku berputar putar
mencari handphone, amplop, uang, dan hal-hal lain yang harus kubawa. Disaat
seperti ini aku harus tanggap menyiapkan hal-hal yang kira-kira diperlukan.
Kemungkinan besar adalah dana santunan duka.
Kehilangan orang yang
kita cintai rasanya sudah sangat pedih, kau tak akan mau menambah beban
mereka dengan permasalahan dana transport ambulans membawa jenazah pulang dari
rumah sakit ke kampung halaman. Yah itulah hal pertama yang terlintas
dikepalaku dan karena itu juga aku tidak segera berangkat ke rumah sakit.
Segera setelah mendapatkan acc dana dari kantor aku berlari ke rumah
sakit.
Aku
ketinggalan.
Tapi tak apa, memang
begitu rencanaku. Yang lain sudah bertemu pak Aceh mungkin. Aku mengajak
kakakku yang memang untuk sementara ini membantuku di tempat kerja pergi ke
rumah sakit. Kami langsung menunggu diruang jenazah. Toh ujung-ujungnya pasti
kesini pikirku. Kami duduk menunggu, (jangan heran , aku sudah mulai terbiasa
dengan ruang jenazah) tak lama kemudian tempat tidur jenazah bersama
rombongan dari rumah singgah pun muncul dikejauhan.
ahhhh... hatiku
mencelos. Melihat pemandangan seperti ini sungguh menyakitkan. Tapi aku tidak
menangis. Bukan tidak sedih, aku hanya tidak menangis. Aku mencari Pak
Aceh (nama aslinya Khaidir kami memanggilnya begitu karena dia
adalah seorang Pria Aceh yang nada bicaranya sangat menunjukkan identitasnya
alias medok Aceh).
Wajah Pak Aceh tampak
sangat terpukul, matanya merah sembab habis menangis. Orang yang paling hobi
ngobrol dan bercanda di rumah singgah ini kini kehilangan senyumnya. Dia
tampak sibuk mengurus administrasi rumah sakit untuk memulangkan jenazah
istrinya kembali ke Aceh.
Aku memang tak pandai
berbasa-basi . Aku terdiam lama. Kupandangi Pak Aceh dari jauh. Kuamati
dia. Pasti hancur hatinya. Dia sudah menjaga istrinya bolak balik Aceh-Medan
demi berobat. Bukan sekali kulihat dia tampak menyemangati istrinya untuk bisa
sehat lagi.Dia begitu mencintai istrinya, tapi Allah lebih mencintai kakak itu
lebih darinya. Aku yang ingin memandang wajah almarhumah untuk terakhir
kalinya beranjak mendekati mayit yang terbaring di tempat tidur jenazah.
Kubuka sedikit kain batik penutup wajah almarhumah. Wajahnya tampak
tirus, pucat. Bukti perjuanganya melawan kanker rektum. Aku berdoa, semoga
sakit itu sudah tidak terasa lagi.
Pak Aceh kembali
setelah menyelesaikan urusan administrasi. Dia berdiri di dekat jenazah
istrinya. Dia mengumamkan sesuatu tapi tak jelas, suaranya terlalu bergetar.
Aku hanya memandangi wajahnya. Pikiranku memikirkan banyak hal yang muncul
bergantian secara cepat. Setelah mengucapkan turut berduka cita aku pun
menunaikan apa yang harus kukerjakan. Santunan.
Tak lama kemudian,
ambulans pun muncul. Ambulans itu dari RSUD Kutacane. Qadarullah kebetulan
ambulans kutacane tempat asal almarhum sedang berada di RS Adam Malik Medan.
Jadilah almarhum dan keluarga nantinya diantarkan dengan ambulans itu.
Kami menunggu hingga jenazah diangkat ke ambulans. Pak
Aceh dan beberapa kerabat beliau yang datang juga ikut naik ambulans itu.
Mereka langsung berangka setelah berpamitan dengan kami yang datang mengantar
kepergian mereka.
Aku dan yang lainnya berjalan kembali ke rumah
singgah. Diperjalanan pikiranku melayang. Ingatanku kembali ke malam beberapa
hari sebelum almarhum meninggal. dua malam berturut turut, kira-kira dua atau
tiga hari sebelum almarhum meninggal. Almarhum sempat kejang. Bukan karena
demam. Tapi karena sakit yang tak tertahankan. Malam pertama almarhum kejang,
almarhum dilarikan menggunakan sepeda motor. Sepeda motor itu dibawa oleh salah
satu pendamping pasien (anak laki-laki salah satu pasien lain) sementara badan
almarhumah digendong oleh Pak Aceh. Yah, bisa kau bayangkan? mereka gonceng
tiga dalam keadaan pasien kejang. Malam selanjutnya almarhumah kejang lagi.
Kali ini tidak ada lagi yang bisa membawa sepeda motor selain aku. Orang yang
semalam membantu Pak Aceh sudah pulang kerumahnya. Alhasil aku nekat membawa
mereka. Allahu'alam tiba-tiba saja tenagaku menjadi begitu kuat. Aku bisa
menggonceng laki-laki dewasa yang sedang mengendong istrinya. Aku sendiri
bingung ketika mengingatnya. Saat itu dalam pikiranku hanya satu, membawa kakak
itu segera ke IGD. Peristiwa itu terjadi begitu cepat, padahal kami baru saja
bercanda kemarin.
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
Kiamat sahajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa yang dijauhkan dari Neraka
dan dimasukkan ke dalam Syurga, maka sungguh dia telah berjaya. Kehidupan dunia
itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (ali-Imran 3: ayat 185)
Sungguh aku tidak membual, ingatanku tentang kejadian
ini begitu kuat. Tak jarang wajah almarhum muncul dikepalaku. Sampai sekarang. Aku
takut, bukan takut pada wajah almarhum. Tapi takut, hari ini aku bisa saja tertawa
dan esok bisa saja aku sudah berbalut kafan. Kalaulah saat itu sudah tiba, aku
hanya bisa berharap, semoga aku dipanggil ketika ditengah ibadah, sempat
menyebut nama AgungNya atau mati dalam keadaan syahid.
Aammiin ...

Komentar
Posting Komentar