Bissmillahirrahmanirrahim

Jakarta, 31 Oktober 2020

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya”

Setiap manusia yang dilahirkan pasti sudah ditentukan takdirnya masing-masing oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Dan ujian adalah sesuatu yang menentukan apakah seseorang mampu melewatinya atau tidak. Seperti halnya orang Miskin, sudah tentu serba kesulitan, dan ujiannya apakah ia tetap mampu berprasangka baik atas ketetapannya atau malah menjadi sebaliknya. Begitu pun ujian yang menimpa bagi orang-orang yang dilebihkan hartanya, apakah mereka mampu mendapatkan penghasilannya dengan cara yang baik atau malah sebaliknya, digunakan untuk apa dan kepada siapa. Dan seterusnya, berlaku juga bagi yang sehat maupun sakit.

Mungkin sudah sering kita dengar nikmat sehat merupakan berkah Allah yang tak ternilai harganya. Dimasa modern ini terlebih dimasa pandemi,  seluruh manusia rela mengeluarkan hartanya dan melakukan apa saja demi menjaga kesehatan. Tanpa kita sadari ada begitu banyak orang yang sebelum masa pandemi ini pun tengah berjuang melawan penyakitnya. Bobroknya status ekonomi dan kesehatan sekarang menambah beban mereka dalam berperang melawan penyakit mereka.  

Biarkan saya membawa anda ke masa lalu. Masa dimana corona belum dikenal dinegeri ini. Saya menjenguk seorang lelaki paruh baya yang mengidap kanker Mulut Ganas. Pak Kantang Namanya, bukan nama asli. Beliau selalu disapa demikian oleh tetangganya. Sebelumnya saya mendapatkan info dari salah satu relawan bahwa Pak Kantang yang tinggal di Tj Morawa, Kab Deli Serdang ini memang sangat miskin. Rumahnya masih dari tepas, beliau dulu bekerja serabutan namun semenjak beliau sakit keluarganya semakin melarat. Saya menemui beliau secara langsung pada tahun 2018 di salah satu rumah sakit umum di Kota Medan. 

Kabar mengenai beliau sempat viral di sosial media beberapa tahun lalu di Sumut hingga membuat saya tertarik untuk segera mengunjungi beliau. Saya masih ingat betul, saya datang disiang hari bersama salah satu sahabat saya yang kebetulan hari itu berniat nongkrong dengan saya. Kami menghubungi istri beliau terlebih dahulu, khawatir tidak diizinkan bertemu. Setelah mendapat izin untuk menjenguk beliau kami langsung mendatangi beliau ke kamarnya. Beliau saat itu sedang berbaring ditempat tidur. Kondisi beliau sudah tidak bisa bicara lagi.  Tak sampai 1 menit setelah masuk dikamar beliau kami mencium bau yang menyengat. Saya tau dari amana arah bau itu, tapi saya saat itu pura-pura tidak tau. Bau itu dari arah Pak Kantang. Qadarullah saya sudah sering bertemu dengan pasien kanker ganas yang mengeluarkan lendir berbau, saya mencoba untuk tenang walau kali ini baunya cukup menyengat. Teman saya yang tidak biasa langsung izin keluar ruangan. Beliau menangis, dan memberi kode. Saya tau maksudnya. “Jangan dekat dekat, bau”. Tentunya kejadian ini tidak pernah saya ceritakan ke orang lain, apalagi ke berita rilis. Terlalu sedih. Disatu sisi beliau senang dikunjugi tapi malu dengan keadaanya. 

Saat itu yang ada dalam pikiran saya harus mendapatkan  cerita lengkap dari istrinya. Saya bertahan diruangan itu kurang lebih 15 menit. Istrinya mengaku penyakit yang diderita suaminya sudah lama ada. Dari sekedar bengkak kecil digusi hingga membesar parah. Pak Kantang mendapatkan penanganan setelah beritanya viral dan sampai ke telinga gubernur. Alhamdulillah gubernur datang menjenguk beliau. Barulah beliau diobati walaupun sempat harus pindah rumah sakit sana sini karena keterbatasan fasilitas dan lain lain. Pasca beritanya viral beberapa  komunitas dan lembaga berusaha membantu beliau. Ada yang membantu dari segi pengobatan, pemberian suplemen dan juga membantu mengumpulkan dana untuk biaya hidup keluarga Pak Kantang. Tapi nasi telah menjadi bubur, kanker yang diderita Pak Kantang terlalu ganas. Saat itu istrinya sudah pasrah. Hanya doa yang dapat dilakukan.  

Dua tahun kemudian, saya bertanya tanya bagaimana nasib beliau. Tapi saya tidak benar benar mencari tau kabarnya. Bukan tidak tulus, tapi sepertinya saya sudah tau jawabanya. Hanya tidak ingin memastikan keadaanya saja. Beliau menjadi salah satu dari banyak orang hebat diluar sana yang mengajarkan saya mahalnya kesehatan dan betapa ruginya kita tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.  

Allaahumma 'Afinii fi Badanii... 

Cerita versi Media sudah di rilis di:

https://kumparan.com/inisiatif-zakat-indonesia-izi/mari-bantu-sembuhkan-pak-kantang-dari-penyakit-kankernya-1537953793814340638/full


Komentar

Postingan Populer